Setelah menyelesaikan wirid ba'da sholat magrib, Rahmat mulai menyalami jemaah lain satu persatu yang masih tinggal di masjid menunggu sholat Isa. Benar saja dugaan Rahmat, beberapa orang bertanya-tanya siapa sebetulnya Rahmat.
"Maaf Nak, anak ini siapa dan dari mana kok sepertinya saya kurang begitu kenal...," tanya seorang bapak-bapak yang kelihatan paling sepuh di antara yang lain.
"Mohon izin bapak-bapak, saya Rahmat, cucunya Mbah Sarip dari Pak Suryo," kata Rahmat dengan sopan.
"Masya allah...," beberapa orang sepertinya terkejut mendengar jawaban Rahmat. "Oh jadi Anak ini cucu Mbah Sarip to..., masya Allah... sudah lama sekali kami satu desa ini mencari Mas Suryo saat musibah itu terjadi. Gimana kabar mas suryo sekarang? Tinggal di mana?"
Rahmat mengirim WA ke Aisyah untuk sekalian menunggu Sholat Isa sambil silahturahmi dengan masyarakat di sini. "Bapak saya baru sebulan kemarin kembali kepada allah," jawab Rahmat lirih.
"Innalillahi wa ina ilaihi rojiun...," beberapa orang mengucapkan hampir bersamaan.
Rahmat melanjutkan, "Saat ini saya tinggal di Jakarta. Sebelum meninggal, Bapak sempat berpesan agar saya menengok rumah Mbah Kakung di sini dan mengurus segala sesuatunya yang perlu di selesaikan."
"Oh..., iya Nak Rahmat. Sudah lama sekali Rumah Pak Sarip itu dibiarkan seperti itu. Kalo boleh tahu, apa sebetulnya yang terjadi kok Mas Suryo, Bapak sampean itu, tiba-tiba seperti hilang ditelan bumi. Bahkan kami awalnya mengira kalo Mas Suryo juga jadi korban saat kejadian itu."
"Ya itulah Pak, saya juga tidak tahu. Waktu itukan saya masih kelas 1 SD, yang saya ingat hanya Bapak tiba-tiba mengajak Ibu dan saya untuk berkemas dan pergi dari rumah itu. Setelah itu saya tidak tahu apa-apa lagi. Bahkan letak lokasi rumah Mbah Kakung saja, saya baru tahu seminggu setelah Bapak meninggal dari surat wasiat Bapak. Saya hanya ingat Rumah Mbah Kakung dan jalan ke sekolah saja, selain itu saya tidak tahu karena masih SD."
"Lha Ibu Nak Rahmat sekarang gimana? Apa dia juga tidak bercerita?"
"Ibu lebih dulu dipanggil Allah 3 tahun sebelum Bapak. Beliau juga tidak pernah sedikit pun bercerita tentang semua kejadian. Peristiwa kecelakaan Mbah Kakung itu juga baru saya tahu saat Bapak sakit menjelang wafatnya. Sejak kami pindah ke Jakarta, sepertinya Bapak dan Ibu benar-benar terputus hubungan dari keluarga di sini."
"Bisa seperti itu ya..., terus gimana rencana Nak Rahmat? Di sini tinggal di mana?"
"Iya Pak, rencana setelah Isa nanti saya mampir ke rumah Pak Lurah untuk menyampaikan rencana renovasi dan menghidupkan lagi perkebunan Mbah Kakung.Tadi sebelum ke sini, saya dan istri sudah dapat penginapan di hotel dekat alun-alun kecamatan. Mungkin sementara saya akan bolak-balik dulu dari kecamatan ke sini sebelum Rumah Mbah Kakung siap untuk kami tinggali."
Beberapa orang sepertinya agak kaget ketika Rahmat menyampaikan rencananya untuk tinggal di Rumah Mbah kakung.
"Begini Nak Rahmat, kami warga di sini pasti sangat senang dengan rencana Nak Rahmat. Tapi sebaiknya memang dibicarakan dengan Pak Lurah, nanti abis Isa saya dan beberapa jemaah ini akan menemani ke Pak Lurah. Ada beberapa kejadian terkait dengan Rumah Pak Sarip itu, jadi memang perlu menemui Pak Lurah untuk membicarakan rencana itu."
"Maaf Nak Rahmat, saya ini temen main Suryo, Bapaknya Nak Rahmat dari kecil," seorang yang lain tiba-tiba menyela, lalu lanjutnya,"Kalo Nak Rahmat ada alternatif rencana lain, sebaiknya tidak tinggal di Rumah itu."
Rahmat agak terkejut mendengar kata-kata bapak itu, "Oh? Apa sebenarnya yang terjadi dengan rumah itu Pak?" tanya Rahmat.
Belum sempat bapak itu menjawab, muazin sudah mengumandangkan azan sholat Isa. "Nanti saja kita bicarakan di rumah Pak Lurah, kita sekarang sholat Isa dulu saja." kata bapak itu.
Di Rumah Pak Lurah
Rahmat dan Aisyah yang ditemani 4 orang bapak-bapak jemaah di masjid tadi di terima Pak Lurah dengan baik dan penuh keramahan. Setelah Rahmat memperkenalkan diri dan bercerita tentang rencananya, Pak Lurah terlihat sedikit tegang dan seperti sedang memikirkan sesuatu. Semuanya, di ruang tamu itu seperti penasaran menunggu respon jawaban dari Pak Lurah setelah mendengar rencana Rahmat.
"Hem, begini Mas Rahmat, Rumah Mbah Sarip itukan sudah lama sekali kosong dan tidak terurus. Saya sebetulnya teman Mas Pono di SMP, " kata Pak Lurah mulai menjawab. Mas Pono adalah kakak sepupu Rahmat, anak pertama Pakde Darno.
Pak Lurah melanjutkan, "Setelah selesai pemakaman yang mengaharukan seluruh desa waktu itu, hampir setiap orang di sini mencari-cari Pak Suryo namun tidak pernah ada yang menemukan atau mendapat kabar tentangnya. Masyarakat kemudian membiarkan rumah itu kosong hingga sekarang. Selama rumah itu kosong, beberapa kejadian aneh terjadi berulang kali. Kejadian terakhir, 3 bulan yang lalu, dan sekarang masih dalam penyelidikan pihak berwajib. Jadi, sebaiknya kita besok melibatkan Pak Babinsa sekallian melihat situasi dan kondisi rumah itu sekarang."
"Betul Pak Lurah...," Kata Pak Bandi, orang yang tadi mengaku teman Bapak sejak Kecil. Lalu dia melanjutkan, "Nak Rahmat, 3 bulan yang lalu, di rumah itu ditemukan mayat seorang wanita yang tergantung di ruang tamu."
"Inalillahi..." ucap Rahmat dan Aisyah terkejut hampir bersamaan.
"Wanita itu bukan warga desa ini. Dari identitas yang ditemukan, dia warga Desa dari kecamatan lain. Kejadian itu adalah kejadian yang ke sembilan di luar kejadian lain yang tidak sampai menimbulkan korban jiwa. Dalam kurun waktu kira-kira 30 tahun ya? Sembilan orang meninggal di rumah itu tanpa diketahui sebab musababnya."
"Masya Allah, jadi sudah ada 9 orang yang meninggal di rumah itu Pak?" tanya rahmat keheranan dengan cerita Pak Bandi.
Bapak-bapak yang lain terlihat hampir bersamaan mengangguk-anggukan kepala menjawab pertanyaan Rahmat. "Iya betul Mas Rahmat, " kata Pak Lurah menegaskan, lalu lanjutnya, "Anehnya, mereka semua bukan penduduk desa ini. Seolah-olah, ada yang membawa atau mengajak mereka ke rumah itu tanpa ada satu pun warga yang tahu."
"Jadi sebaiknya bagaimana Pak?," tanya Rahmat yang mulai ragu, "Saya memegang surat-surat legal dari Rumah dan Tanah Mbah Kakung, saya pewaris tunggal atas aset-aset itu sesuai surat wasiat dari Mbah Kakung dan Bapak."
"Begini saja Mas Rahmat, besok kita pagi-pagi ketemu lagi di rumah itu bersama Pak Babinsa. Nanti kita juga mengajak beberapa warga yang sedikit banyak kenal dan tahu tentang Mbah Sarip. Kita sama-sama melihat kondisinya seperi apa lalu membicarakan bersama," jawab Pak Lurah.
Pak Lurah terdiam sebentar, lalu melanjutkan, "Mas Rahmat ingat Pak Sobrikan? yang sering antar jemput mas ke sekolah?"
"Iya Pak, saya ingat betul, Pak Lik Sobri yang paling sering antar jemput saya waktu itu dengan motor vespa mbah kakung."
"Beliau adalah ayah saya," kata Pak Lurah
"Oh iya..., betul saya ingat, berarti yang sering main di kebun bersama Mas Pono itu Pak Lurah to? Masya Allah, saya mulai ingat sedikit demi sedikit Pak."
"Betul Mas, nah..., sebelum meninggal, Bapak pernah mengatakan pada saya dan mewanti-wanti betul agar kalau suatu hari nanti bertemu dengan Pakde Suryo atau anaknya, Mas Rahmat itu, tolong kasih tahu jangan pernah kembali ke Rumah Mbah Sarip."
Rahmat terkejut dan semakin heran. Pak Sobri adalah salah satu pegawai mbah Kakung yang mungkin paling dipercaya saat itu. Di banding pegawai lainnya, Pak Sobri paling sering disuruh Mbah Kakung ke sana ke mari dengan motor Vespanya. Vespa itu salah satu kesayangan Mbah kakung, anak-anaknya saja tidak ada yang boleh menggunakannya.
Pak Lurah melanjutkan, "Tapi semua itu tergantung pada Mas Rahmat, sekarang sudah zaman internet tentu segala sesuatunya harus bisa di nalar dan masuk akal. Saya juga tidak tahu kenapa Bapak berpesan seperti itu."
"Baiklah Pak Lurah," ujar Rahmat berniat ingin menyudahi pertemuan ini, "Ini sudah malam, kami tidak ingin mengganggu waktu istirahat Pak Lurah. Kami mohon diri dulu dan besok mohon maaf kami harus merepotkan Pak Lurah dan Warga."
Setelah basa basi menutup pertemuan dan bertukar nomor HP, Rahhmat dan Aisyah pergi menuju penginapan. Sebetulnya jarak dari desa ini ke kecamatan tidak terlalu jauh, dengan mobil hanya butuh waktu 20 - 30 menit. Hanya saja memang harus melalui lautan kebun teh dan jalan yang naik turun berkelak kelok.
Hamparan kebun teh yang hijau menyejukkan seperti terlihat sore tadi, saat ini berubah hitam kelam karena malam hari dan tidak ada lampu jalan. Aisyah mencoba memecahkan keheningan karena melihat Rahmat sepertinya tenggelam dalam pemikiran sambil menyetir mobil. "Gimana menurut Mas? Setelah mendengar semua cerita tadi, apakah masih tetap ingin tinggal di sini?"
"Kalo menurutmu gimana Ais? Aku sendiri bingung harus memutuskan, apakah melaksanakan wasiat Bapak atau mengabaikan saja?"
"Kalo menurutku, kita sendirikan belum tahu persis ada apa sebenarnya dengan rumah Mbah Kakung. Jadi, kalo Mas memutuskan untuk membatalkan rencana semula, artinya kita belum mencoba berbuat apa-apa untuk melaksanakan wasiat Bapak."
"Betul Ais, besok kita pikirkan lagi setelah melihat situasi dan kondisi Rumah itu. Aku sepertinya juga sudah lelah setelah 8 jam dari Jakarta tadi pagi belum beristirahat. Kita makan malam di penginapan saja, biar bisa langsung tidur setelah itu."
BERSAMBUNG

0 comments:
Post a Comment